Mungkin tak banyak yang tau bahwa seorang Sjahrir bisa begitu mahir melukiskan keindahan tanah airnya..
Ia menulis tentang keindahan negrinya di sebelah timur yang laksana dongeng:
Alangkah
indahnya bagian timur Indonesia ini. Dalam perjalanan ke mari banyak
keindahan alam yang kami lihat. Sepanjang pantai Sulawesi terbentang
lautan biru yang indah sekali, kadang2 terang dan tembus cahaya seperti
indung mutiara, kadang2 biru tua, tapi keindahannya selalu murni. Laut
tetap tenang jadi kami bisa menikmati saujana yang indah, menikmati
pantai dan gunung2 Sulawesi, pulau2 putih dan hijau yang begitu bagus
dipeluk oleh kebiruan lautan seraya bermandikan cahaya surya
keemas-emasan dan kadangkala keperak-perakan. Di muka salah satu pulau
itu, kapal menjatuhkan jangkar: pulau Buru. Di situ pemandangan sangat
indahnya: laut biru sampai hampir dekat pantai, batu karang putih2,
pantai putih dan di sebelah belakang gunung2 yang hijau kebiru2an. Yang
biru itu menjadi lebih nyata lagi, apabila matahari melukiskan berbagai
nuansa emas dan perak di atas laut yang biru dan gunung2 yang biru
kehijau2an, di bawah langit biru. Seolah2 kita berada dalam dunia
dongeng rasanya. (h. 52)
Dan ia juga pandai melukiskan pemandangan kala matahari tenggelam dipeluk malam:
Tatkala
matahari terbenam, kami meninggalkan teluk Ambon. Laut dan langit masih
biru, jernih. Di belakang kami kelihatan gunung2 yang hijau kebiru2an.
Cahaya emas sang surya yang cepat bertambah merah, menjadikan laut
berkilau2an dengan ribuan cahaya2. di atas laut yang penuh hidup, penuh
warna dan penuh kegemerlapan itu, nampak banyak kapal layar kecil,
ramping, cepat, penuh gairah hidup, seakan-akan bermain-bermain di atas
riak2 kecil. Dan di latar belakang, gunung2 biru lena bermimpi laksana
penjaga diam—hening. (h. 54)
Ternyata belum lagi selesai. Ia juga mahir melukiskan suasana pergantian senja menuju malam:
Pemandangan
matahari terbenam itu adalah yang paling indah yang pernah kami lihat
selama perjalanan ini. Langit agak berawan, dan saat sebelum menyelam ke
dalam air, matahari itu hilang di belakang sejumput awan. Tatkala ia
mencul kembali, warnanya merah pijar dan seluruh alam bermandikan cahaya
merah itu; berjuta2 cahaya kemerah2an berkilau2 di permukaan laut.
Sesaat kemudian lautan diwarnai seribu warna dari merah dan lembayung
hingga berbagai nuansa hijau dan kuning. Satu jurai cahaya merah masih
nyata kelihatan, tepat antara dua pulau kecil hijau, yang makin lama
makin gelap dengan bertambah pudarnya cahaya merah itu.
Sebuah
perahu yang didayung oleh seseorang, datang laksana sebuah bayangan
mendekati jurai cahaya itu, dan sesaat lamanya perahu itu menjadi terang
benderang ditimpa cahaya jurai itu dan menjadilah perahu serta
pendayung itu satu2nya yang hidup dalam keindahan alam yang hening dan
agung itu. Kemudian kembalilah perahu itu menjadi bayangan. Warna2 masih
terus berubah2 tapi makin pudar; awan2 yang menyebabkan permainan ajaib
nuansa2 itu, hilang pula warnanya yang kemerah2an itu dan menjadi putih
atau gelap.
Tatkala aku menoleh ke belakang, kulihat bahwa
matahari hanya menguasai separuh alam, sebab di belakangku nampak dunia
yang lain, ialah dunia dongengan sang rembulan. Sedangkan separuh dunia
yang satu dipesonakan oleh matahari dan awan, maka sementara itu bulan
telah menaklukkan separuh dunia yang lain dengan cahayanya yang dingin.
Ia telah muncul dari belakang sebuah gunung yang sekarang biru gelap
kembali. Dan nampak jelas bagaimana ia tambah lama tambah murni dan
terang; seolah2 mendesak permaian warna sang surya ke depannya, sampai
akhirnya seluruh alam dicelupnya dalam cahayanya yang lembut bersuasana
impian. Maka nampaklah lagi berjuta2 kerlipan cahaya keperak2an di
permukaan laut, dan di atasnya bulan dan beribu2 bintang. Ketenangan,
harmoni, mimpi. (h. 57)
Betapa kata-kata punya daya
sihir ajaib yang sanggup menggambarkan suasana, rasa, emosi, pemandangan
alam dalam imajinasi kita yang membacanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar