Senin, 11 April 2016

NEGRI KU INDAH

Mungkin tak banyak yang tau bahwa seorang Sjahrir bisa begitu mahir melukiskan keindahan tanah airnya..

Ia menulis tentang keindahan negrinya di sebelah timur yang laksana dongeng:

Alangkah indahnya bagian timur Indonesia ini. Dalam perjalanan ke mari banyak keindahan alam yang kami lihat. Sepanjang pantai Sulawesi terbentang lautan biru yang indah sekali, kadang2 terang dan tembus cahaya seperti indung mutiara, kadang2 biru tua, tapi keindahannya selalu murni. Laut tetap tenang jadi kami bisa menikmati saujana yang indah, menikmati pantai dan gunung2 Sulawesi, pulau2 putih dan hijau yang begitu bagus dipeluk oleh kebiruan lautan seraya bermandikan cahaya surya keemas-emasan dan kadangkala keperak-perakan. Di muka salah satu pulau itu, kapal menjatuhkan jangkar: pulau Buru. Di situ pemandangan sangat indahnya: laut biru sampai hampir dekat pantai, batu karang putih2, pantai putih dan di sebelah belakang gunung2 yang hijau kebiru2an. Yang biru itu menjadi lebih nyata lagi, apabila matahari melukiskan berbagai nuansa emas dan perak di atas laut yang biru dan gunung2 yang biru kehijau2an, di bawah langit biru. Seolah2 kita berada dalam dunia dongeng rasanya. (h. 52)

Dan ia juga pandai melukiskan pemandangan kala matahari tenggelam dipeluk malam:

Tatkala matahari terbenam, kami meninggalkan teluk Ambon. Laut dan langit masih biru, jernih. Di belakang kami kelihatan gunung2 yang hijau kebiru2an. Cahaya emas sang surya yang cepat bertambah merah, menjadikan laut berkilau2an dengan ribuan cahaya2. di atas laut yang penuh hidup, penuh warna dan penuh kegemerlapan itu, nampak banyak kapal layar kecil, ramping, cepat, penuh gairah hidup, seakan-akan bermain-bermain di atas riak2 kecil. Dan di latar belakang, gunung2 biru lena bermimpi laksana penjaga diam—hening. (h. 54)

Ternyata belum lagi selesai. Ia juga mahir melukiskan suasana pergantian senja menuju malam:

Pemandangan matahari terbenam itu adalah yang paling indah yang pernah kami lihat selama perjalanan ini. Langit agak berawan, dan saat sebelum menyelam ke dalam air, matahari itu hilang di belakang sejumput awan. Tatkala ia mencul kembali, warnanya merah pijar dan seluruh alam bermandikan cahaya merah itu; berjuta2 cahaya kemerah2an berkilau2 di permukaan laut. Sesaat kemudian lautan diwarnai seribu warna dari merah dan lembayung hingga berbagai nuansa hijau dan kuning. Satu jurai cahaya merah masih nyata kelihatan, tepat antara dua pulau kecil hijau, yang makin lama makin gelap dengan bertambah pudarnya cahaya merah itu.

Sebuah perahu yang didayung oleh seseorang, datang laksana sebuah bayangan mendekati jurai cahaya itu, dan sesaat lamanya perahu itu menjadi terang benderang ditimpa cahaya jurai itu dan menjadilah perahu serta pendayung itu satu2nya yang hidup dalam keindahan alam yang hening dan agung itu. Kemudian kembalilah perahu itu menjadi bayangan. Warna2 masih terus berubah2 tapi makin pudar; awan2 yang menyebabkan permainan ajaib nuansa2 itu, hilang pula warnanya yang kemerah2an itu dan menjadi putih atau gelap.

Tatkala aku menoleh ke belakang, kulihat bahwa matahari hanya menguasai separuh alam, sebab di belakangku nampak dunia yang lain, ialah dunia dongengan sang rembulan. Sedangkan separuh dunia yang satu dipesonakan oleh matahari dan awan, maka sementara itu bulan telah menaklukkan separuh dunia yang lain dengan cahayanya yang dingin. Ia telah muncul dari belakang sebuah gunung yang sekarang biru gelap kembali. Dan nampak jelas bagaimana ia tambah lama tambah murni dan terang; seolah2 mendesak permaian warna sang surya ke depannya, sampai akhirnya seluruh alam dicelupnya dalam cahayanya yang lembut bersuasana impian. Maka nampaklah lagi berjuta2 kerlipan cahaya keperak2an di permukaan laut, dan di atasnya bulan dan beribu2 bintang. Ketenangan, harmoni, mimpi. (h. 57)

Betapa kata-kata punya daya sihir ajaib yang sanggup menggambarkan suasana, rasa, emosi, pemandangan alam dalam imajinasi kita yang membacanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar